Kamis, 18 April 2013

Hari Kartini Jangan Sebatas Selebrasi



YOGYAKARTA- Peringatan hari lahir pahlawan Indonesia RA Kartini jangan hanya menjadi seremonial tahunan saja. Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, diperingati setiap tahun karena perjuangan Kartini yang Memperjuangkan hak dan derajat kaum perempuan agar mempunyai tingkat kedudukan yang setara dengan laki-laki. Hari Kartini kini hanya diperingati sebagai sebuah seremoni, dengan berbagai kegiatan untuk memperingatinya, seperti lomba pakaian daerah atau lomba membaca surat kartini. Namun Hari Kartini dipandang lain oleh Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI).  
“Hari Kartini jika dilihat dari konteks PKBI, bukan hanya semata tokoh emansipasi perempuan. Melainkan Kartini sebagai korban dari sistem sosial yang tidak sadar dengan sistem reproduksi.” Ujar Direktur PKBI, Maesur Zaky, Kamis (18/4).
Zaky menambahkan, penyebab kematian Kartini itulah yang merupakan esensi pesan dari RA Kartini yang terlupakan. Kuatnya budaya Patriarkhi menyebabkan Kartini harus menikah muda dan terpapar resiko reproduksi.
“Faktanya, Kartini meninggal itu karena hamil dan melahirkan diusia muda. Seorang perempuan dikatakan sudah siap menanggung resiko reproduksi (mengandung) pada usia ideal  25 – 35 tahun,” papar Zaky.
Tidak hanya itu, menurut Zaky, Kartini adalah pesan bagi bangsa Indonesia untuk serius menjaga kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender.
“Inti perayaan Kartini yang belum tercapai, masih banyaknya perempuan menikah muda sehingga harus menanggung resiko reproduksi. Dengan dirinya menanggung resiko reproduksi, maka dia kehilangan hak untuk mengenyam pendidikan. Hendaknya bangsa Indonesia jangan merayakan Hari Kartini sebatas seremonial belaka dengan menggunakan kebaya dan berdandan ala ‘kartini’ ”, pungkas Zaky. 

(liputan wulan untuk Suara Merdeka)

Tidak ada komentar: